Ukhuwah Islamiyah memiliki persyaratan dan landasan yang harus dipenuhi. Ia dapat diterima oleh Allah swt apabila ditempuh melalui jalur proposional.
Ikhlas Karena Allah
Akan terbina ukhuwah Islamiyah jika orang-orang yang terlibat di dalamnya mampu membebaskan dirinya dari kepentingan dan keuntungan peribadi. Sabda Rasulullah:
"Bahawa seseorang mengunjungi saudaranya di desa lain, lalu Allah mengutus malaikat untuk membuntutinya. Ketika malaikat menemuinya, dan berkata: "Kau mau kemana?" Ia menjawab, "Aku ingin mengunjungi saudaraku di desa ini" Malaikat terus bertanya, "Apakah kamu akan memberikan sesuatu pada saudaramu?" Dia menjawab "Tidak ada, melainkan hanya aku mencintainya karena Allah swt" Malaikat berkata "Sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, bahawa Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai orang tersebut karena Nya". (HR Muslim) Harus Disertai Iman dan Taqwa
Akan terwujud ukhuwah Islamiyah jika seorang muslim memilih sahabat-sahabatnya yang mukmin dan mengambil teman-temannya yang paling beriman dan bertaqwa.
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara..." - Al-Hujurat:10 "Teman-teman dekat pada hari itu sebagiannya musuh bagi sebagian yang lain, kecuali yang bertaqwa" - Az-Zukhruf:67 Abu Sa'id Al-Khudri mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda,
"Janganlah kamu berteman melainkan orang mukmin dan janganlah makan makananmu melainkan orang yang bertaqwa" (HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Hakim, hadits shahih)
Abu Hurairah berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda,
"Seseorang itu menurut agama sahabat dekatnya maka hendaklah kamu melihat dengan siapa ia bersahabat" (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)
Ukhuwah Islamiyah yang terdiri atas orang-orang beriman dan bertaqwa, ikatannya akan kukuh dan kuat, tidak mungkin tergoyahkan oleh sesiapun, walaupun badai fitnah dan angkara murka mengguncangnya.
Harus Iltizam Dengan Manhaj Islam
Keiltizaman ukhuwah dengan manhaj Islam akan dapat terwujud jika dua orang atau pihak yang saling bersaudara berjanji setia untuk berhukum dengan hukum Allah swt dan mengembalikan segala persoalan kepada petunjuk Nabi Muhammad saw.
Bila dua orang sahabat Rasulullah saw berjumpa, mereka tidak akan berpisah kecuali satu di antara mereka telah membac surah Al-'Ashr, kemudian saling mengucapkan salam. Ini menunjukkan bahwa keduanya berjanji setia melaksanakan manhaj Islam dalam hidupnya. Mereka berjanji setia atas dasar iman dan amal shalih. Berjanji setia untuk saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran serta berjanji setia akan selalu menegakkan Islam.
Imam Syafi'i dengan pemahamannya yang cermat dan dalam mengatakan, "Andaian Al-Quran itu hanya surah Al-'Ashr maka itu sudah cukup untuk manusia"
Jika sudah meresap ke dalam hati seperti kebiasaan para sahabat tersebut ukhuwah akan membentuk diri seorang muslim seperti Al-Quran berjalan. Karena seluruh perangai, akhlak, dan pergaulannya sepenuhnya mencerminkan manhaj hidup Al-Quran ini. Dia beriltizam penuh dengan Al-Quran dan seluruh prinsip Al-Quran, baik keyakinan hatinya, ucapan lisan dan amal fisiknya.
Tegak Berasas Nasihat karena Allah
Seorang muslim harus menjadi cermin saudara muslim lainnya. Jika salah seorang muslim melihat saudaranya berbuat baik, ia memberi semangat agar terus meningkatkan amal kebaikanny. Akan tetapi jika ia melihat saudaranya mengerjakan sesuatu yang kurang sempurna, ia akan menasihatinya dengan cara yang baik - secara diam-diam - dan menganjurkan agar ia bertaubat kepada Allah untuk kembali ke petunjuk Dinul Haq.
Rasulullah saw membaiat para sahabat dengan nasihat yang ikhlas semata-mata karena Allah agar mereka menjadi da'i yang ikhlas, penunjuk jalan yang baik, dan menjadi mujahid dakwah, di manapun mereka berada dan kemana pun mereka berjalan.
Pertanyaan, bagaimana jika mereka tidak mau menerima nasihat?
Jika tidak mau menerima nasihat dan tetap menjalankan kemaksiatan serta membandel, maka mereka dijauhkan sampai mereka kembali ke jalan yang benar. Akan tetapi dalam menjalankannya hendaklah semata-mata karena Allah. Tidak ada unsur kebencian yang bersifat pribadi. Jika mereka tetap dan terus menerus dalam kefasikannya, bergelimang dalam kesesatan, dan membandel dengan tidak mau memperbaiki, maka ia harus dikucilkan untuk selama-lamanya. Pengucilan ini merupakan konsekuensi dari iman yang paling kuat.
Rasulullah saw bersabda: Sekuat-kuat ikatan iman adalah bersahabat karena Allah, cinta karena Allah, dan membenci karena Allah" (HR Thabrani dari Ibnu Abbas ra)
Dalam salah satu riwayat shahih diceritakan, Nabi pernah membiarkan salah seorang isterinya selama satu bulan penuh - sebagai teguran dan pendidikan baginya - karena menyalahi dan melanggar syariat Allah.
Abdullah bin Umar ra pernah membiarkan seorang anaknya sampai mati, karena tidak mematuhi hadits Nabi yang disampaikan ayahnya. Hadits itu berkaitan dengan larangan mencegah perempuan pergi ke masjid (diriwayatkan oleh Imam Suyuthi)
Terhadap orang yang jelas-jelas membangkang syariat Allah atau orang-orang muslim yang murtad maka bagi mereka putus semua hubungan. Hal ini merupakan pelaksanaan pengarahan Al-Quran, meskipun yang murtad iut ayah, saudara, atau anak sendiri.
Firman Allah:
"Kamu tidak akan mendapat satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara ataupun keluarga mereka...." - Al-Mujadilah:22 "Hai orang-orang beriman, janganlah engkau jadikan bapak-bapak, dan saudara-saudaramu menjadi walimu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan. Dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali maka mereka itulah orang-orang yang zalim" - At-Taubah:23 Islam menempatkan ikatan ukhuwah islamiyah di atas semua ikatan, dan menempatkan persaudaraan aqidah Rabbaniyah berada di atas segala persaudaraan. Oleh karena itu, prinsip Islam yang tetap dan tidak berubah-ubah adlah "Sesungguhnya orang yang beriman itu adalah bersaudara"
Setia Dalam Kesenangan Dan Kesusahan
Rasa kesetiaan dan tolong-menolong saat susah dan senang tidak akan terwujud jika dikalangan mereka tidak tumbuh rasa sependeritaan dan sepenanggungan. Oleh karena itu, jika Islam mewajibkan berbuat tolong-menolong sesama muslim, sudah tentu tolong-menolong tersebut berada di jalan Allah.
Firman Allah:
"...Hendaklah kamu tolong-menolong dalam kebaikan dan taqwa..." - Al-Maidah:2
Anas ra berkata "Rasulullah bersabda, "Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri" (HR Bukhari-Muslim)
"Rasulullah saw bersabda, "Seorang muslim adalah saudara bagi seorang muslim lainnya, tidak boleh menzalimi dan tidak boleh membiarkan untuk tidak menolongnya. Barangsiapa yang memperhatikan kebutuhan saudarannya, maka Allah akan memperhatikan kebutuhannya. Barangsiapa melepaskan kesusahan saudaranya maka Allah akan melepaskan kesusahannya di hari Kiamat. Dan barangsiapa menutup (aib) seorang muslim, pasti Allah akan menutupi (aibnya) pada hari Kiamat" (HR Bukhari-Muslim dari Ibnu Umar)
"Rasulullah saw bersabda, "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, mengasihi, dan membantu bagaikan satu tubuh, bila salah satu anggota tubuhnya sakit maka seluruh anggota tubuhnya turut merasa sakit, seperti terkena demam atau tidak bisa tidur" (HR Ahmad dan Muslim dari Nu'man bin Basyir)
Apabila persyaratan yang tersebut terpenuhi, maka ukhuwah akan tangguh dan tegar. Ukhuwah tidak akan terpengaruh oleh badai dan topan yang menerpanya. Ukhuwah akan menjadi kokoh seperti gunung, bersinar terang seperti matahari dan selalu ceria seperti pagi yang cerah.